Pages

Wednesday, December 8, 2010

Puring Anting Raja dan Kelabang

Julukan daun sejuta warna, memang layak dipegang oleh puring. Sebab, tanaman yang berbatang keras ini punya kombinasi warna yang beragam, mulai dari hijau, merah, hitam, kuning jadi kombinasi semua warna yang ada. Selain warna, bentuk daun juga jadi daya tarik sendiri bagi tanaman yang sebelumnya dikenal sebagai bunga kuburan ini.
Puring termasuk dalam keluarga Euphorbiaceae yang mempunyai struktur berbatang keras, berdaun tebal, dan mempunyai warna beragam antara daun tua dan muda. Bentuknya mudah dijumpai, dengan ciri khas dari batang yang berwarna coklat dan warna yang tak merata di permukaan daun.

Puring sendiri memang di Indonesia banyak dimanfaatkan untuk tanaman pagar maupun penghias kuburan. Tapi itu dulu, sekarang puring sudah naik kelas jadi tanaman hias yang mempunyai kapasitas cukup besar masuk di jajaran tanaman mahal. Terlebih, warna yang jadi simbol tanaman hias sudah dimiliki dan muncul di permukaan daunnya.

Selain warna, karakter daun puring juga menyimpan keindahan yang pantas dilirik, terutama dari luas permukaan daun. Selain itu, gerakan daun juga memberikan satu gambaran yang cukup menakjubkan, seperti jenis puring apel yang mempunyai gerakan daun membulat. Kemudian puring kura-kura yang mempunyai struktur daun berlekuk mirip tempurung kura-kura.
Kali ini Tabloid Gallery akan memberikan alternatif jenis puring yang mempunyai gerakan daun menarik dan ekstrim, dimana bentuk daun mempunyai bagian lain yang menggantung dan di ujung gantungan muncul permukaan daun baru dengan bentuk membulat. Ada dua jenis spesies puring yang mempunyai karakter serupa – tapi tak sama – yaitu puring anting raja dan puring kelabang.

Puring Anting Raja

Nama anting raja diambil, karena struktur tanamannya mempunyai daun yang terputus dan mengeluarkan juntaian dengan ujung yang membentuk daun. Sepintas, memang mirip dengan anting yang menggantung di telinga. Sedang nama raja diambil berdasarkan munculnya karakter warna yang sangat beragam.
Pebisnis Tanaman Hias di Jember Jawa Timur (Jatim), Suhaimi, mengatakan kalau jenis ini termasuk puring yang punya kelainan pada daun. Sebab normalnya – daun akan lurus – sementara di puring ini daun terputus dan muncul lagi.
“Karakter ini yang akhirnya membuat penjualan cukup laris,” tandas Suhaimi.
Karakter daun dari anting raja mempunyai struktur lebar daun yang tipis – memanjang – tanpa lekukan di tepi daun. Lebar daun mempunyai ukuran sekitar 2 cm dan panjang sekitar 5-7 cm. Di ujung daun bagian bawah, akan muncul tulang daun baru yang mengarah ke bawah sebagai anting. Di ujungnya kemudian keluar daun baru yang berbentuk kerucut, dengan pusat juluran anting.
Dari warna puring, tetap menyimpan misteri yang menarik, dimana akan terjadi metamorfosis antara daun baru dan daun tua. Pada anting raja, daun baru yang muncul berwarna hijau muda. Tak ada gradasi warna lain, khusus untuk daun muda dan warna ini terus bertahan hingga daun mulai tua.
Di daun tua, warna yang muncul akan sedikit kehitaman dengan beberapa titik warna hitam yang muncul di tulang daun dan tepi daun. Beberapa karakter warna kuning, juga muncul berdampingan dengan tulang daun, sehingga di daun tua akan muncul tiga warna, yaitu hijau, hitam, dan kuning.
“Kombinasi ini bisa bertambah, saat daun tua warna jadi gelap cenderung hitam,” imbuh Suhaimi.
Selain itu, bagian bawah daun punya warna yang tak kalah menarik, yaitu mengeluarkan bintik coklat dari dominan warna hijau. Jadi jangan heran, bila warga Jember menyebutnya sebagi tanaman ngejreng alias raja warna yang beranting. Harga jual cukup terjangkau, yaitu berkisar di angka Rp 80 ribu untuk setiap potnya.

Puring Kelabang


Meski mempunyai nama yang berbeda – tapi karakter daun sama – yaitu mempunyai tulang daun yang menjulur dan muncul daun kembali di ujungnya. Pola tumbuh dari satu cabang memang tak jauh berbeda, tapi di bagian seperti daun, warna, dan karakter berbeda. Jenis ini diberi nama kelabang, karena struktur daun melingkar seperti kelabang yang sedang tidur.
Dilihat mulai dari bentuk daun, puring ini punya bentuk yang tak lazim, yaitu memutar seperti sebuah mata bor. Di situ, lekukan akan habis di ¾ bagian panjang tulang daun dan selanjutnya hanya menyisakan tulang daun. Kemudian di bagian ujung, muncul kembali daun yang mempunyai karekter sama, yaitu melingkar. Menurut Suhaimi, bila dilihat dari kejauhan bentuk puring sama sekali tak menarik, karena akan bergerombol dan tak membentuk satu pola apapun.
“Daunnya semua melingkar dan menggambarkan satu bentuk tak beraturan. Namun berbeda bila dilihat lebih detail, terutama pada kombinasi warna dan karakter dari gerakan melingkar ini,” ujar Suhaimi.
Lingkaran daun cukup lebar bila daun ditarik garis lurus, dimana bisa mencapai 3-4 cm lebih lebar dari anting raja yang hanya 2 cm. Karena bentuknya melingkar, maka panjang daun hanya berkisar 4-5 cm. Padahal permukaannya, bisa lebih dari 10 cm bila bergerak lurus.
Warna yang muncul beragam – baik di daun muda maupun tua – tidak satu warna seperti jenis anting raja. Daun barunya didominasi warna merah muda dengan bintik hijau di bagian tengah daun. Warna ini akan makin gelap saat daun jadi tua, dimana merah muda akan jadi merah tua dan warna hijau berubah jadi hitam.
Di tahapan ini yang membuat puring kelabang ditengok oleh sebagian pengunjung yang datang ke kebun milik Suhaimi. Sebab, hanya jenis ini yang mempunyai struktur melingkar dan membentuk anting di ujungnya.
“Makin aneh tanaman, makin dilirik. Dari penjualan sendiri, memang jenis ini punya harga yang lumayan mahal, dimana untuk satu pohonnya setidaknya dijual dengan Rp 130 ribu rupiah,” ungkap Suhaimi.
Perawatannya memang tidak ada yang berbeda dengan tanaman puring lainnya, yaitu senang dengan sinar matahari dan membutuhkan unsur Phospor (P) lebih besar untuk meningkatkan kualitas warna. Namun untuk kelabang – semakin mendapatkan sinar lekukan – daun jadi lebih tajam.
Tapi perlu diingat, kalau di daerah panas seperti perkotaan, sinar matahari akan terlalu keras bagi puring. Di situ akibat terlalu panas, sinar yang didapat warna yang muncul bukan semakin cerah, bahkan sebaliknya, dimana warna jadi pudar. Jadi bila di daerah perkotaan, sebaiknya lindungi dengan shading net untuk ukuran 25%.

No comments:

Post a Comment

 

Sample text

Sample Text

Sample Text