Pages

Wednesday, July 11, 2012

Peluang Bisnis dari Tas Etnik Beromzet Miliaran Rupiah

Peluang Bisnis dari Tas Etnik Beromzet Miliaran Rupiah

Tas berbau etnik selain memiliki nilai seni yang tinggi ternyata bisa mendatangkan keuntungan yang lumayan besar. Tengok saja usaha tas bernama Gendhis ini, dari sebuah rumah di kawasan Ringroad barat, Gamping, Sleman, Yogyakarta tercipta berbagai macam model ats etnik berbahan alami dengan merek Gendhis.Dari rumah yang sekaligus menjadi pabrik tersebut setiap hari dihasilkan ratusan tas buatan tangan yang dipasarkan dengan harga yang relatif mahal.Usaha tas etnik tersebut dikelola oleh pasangan suami-istri Indro Pranomo dan drg.Ferry Yuliana. Sejak tahun 2002 dengan penuh ketekunan mereka mengembangkan bisnis tas etnik yang kini telah menunjukkan hasil yang sangat positif.

Perjalanan bisnis tas etnik Gendhis pada awalnyaboleh dibilang tidak disengaja, karena pada awalnya merupakan hasil kreasi Ferry yang berusaha mengisi waktu sambil menunggu kelahiran buah hatinya. Ferry sebelumnya bekerja di perusahaan tas yang cukup dikenal di Yogya. Karena hamil, ia memutuskan berhenti bekerja. Iseng-iseng ia membuat tas dari bahan-bahan alami. Ferry membuat desain yang selanjutnya diteruskan kepada para perajin untuk mengerjakannya.

Namun ternyata hasil kerajinan tas yang ia desain banyak diminati para koleganya. Dari situlah, Ferry kemudian memulai serius menangani bisnis pembuatan tas tersebut. Nasib baik agaknya sedang berpihak kepadanya. Ketika pada masa awal menekuni pembuatan tas tersebut, ia telah memberanikan diri mengikuti pameran Inacraft. Karena merasa yakin bahwa produknya akan diminati, ia memproduksi dalam jumlah yang lumayan banyak.

Namun pada saat menjelang pameran tersebut, mereka belum memiliki brand untuk produk tas etnik-nya, akhirnya mereka menemukan nama Gendhis.Nama itu baru didapat ketika Indro dan istrinya sedang duduk di kafe sebuah hotel. Ide itu tiba-tiba muncul tatkala melihat kemasan gula pasir yang dibungkus kertas kecil dengan tulisan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Tiba-tiba dia teringat istilah bahasa Jawa dari gula, yakni gendhis, akhirnya diputuskan nama Gendhis menjadi nama produknya.

Bagi mereka, membuat tas bukan sekadar merangkai bahan-bahan tertentu untuk kemudian terbentuk menjadi benda yang berfungsi sebagai tas semata. Akan tetapi, setiap tas yang diproduksi harus “bernyawa”. Di dalamnya mengandung sesuatu yang mengesankan bagi pecintanya. Karena itulah, setiap desain memiliki tema tertentu. Dan demi menjaga eksistensi, setiap bulan minimal ada dua motif baru yang diluncurkan. Jika ada event akbar seperti Inacraft, dimunculkan puluhan motif baru ke pasar.

Indro dan istrinya saat ini tengah menikmati manisnya rezeki dari produksi tas Gendhis. Saat ini, setiap bulan mereka bisa memproduksi ribuan tas dengan aneka model dan bentuk. Hasil produk mereka terbilang bukan barang murahan lagi. Sebelumnya hasil produk mereka dijual Rp 100-400 ribu, tahun ini mereka memperkenalkan produk yang harganya di atas Rp 1 juta. “Kami memang sengaja memilih konsumen middle-up yang mengutamakan kualitas,” ujar Ferry yang menggunakan berbagai bahan alami seperti rotan, pandan, mendong, enceng gondok, agel, kain batik dan benang nilon untuk tas buatannya.(/Swa).

No comments:

Post a Comment

 

Sample text

Sample Text

Sample Text